Mengapa ‘Berhenti Kerja dan Jadilah Full-Time Traveler’ Merupakan Saran Terburuk

Jutaan “penghuni kubikel” di seluruh dunia bermimpi untuk traveling. Mereka berharap suatu saat bisa menabung cukup banyak untuk mengatakan selamat berpisah kepada pekerjaan kantoran, dan akhirnya memulai hidup baru untuk melihat semua hal di dunia. Jika kamu salah satu dari mereka, bersyukurlah, karena mulai sekarang kamu akan merasa lebih bahagia dan, mungkin saja, terinspirasi.

(IMG: via Tumblr)
(IMG: via Tumblr)

Hampir setiap hari kita disuguhi berbagai artikel di blog seseorang, atau mungkin status update di media sosial, atau bahkan seorang teman bercerita tentang betapa menyenangkannya kehidupan seorang full-time traveler. Cerita mereka seringkali diiringi saran “berhentilah kerja kantoran dan mulailah bepergian!” (bahkan mereka juga membuat meme-nya).

This is the worst (IMG: uberhumor)
This is the worst (IMG: uberhumor)

Semua ‘serangan’ itu membuat kamu berpikir, seandainya saya juga bisa melakukannya!

Hold on, folks! That’s not the way life works. That’s not the reality!

Nggak semua saran baik untukmu, dan (tidak bermaksud untuk menyinggung para full-time traveler) saran untuk berhenti kerja demi bepergian keliling dunia adalah saran terburuk yang bisa kamu dapatkan.

Nyatanya, nggak semua orang ingin berhenti kerja, menjual semua harta benda, dan pergi melanglang buana tanpa tahu kapan kembali. Bahkan,sebagian travel-blogger terkenal nggak berniat sama sekali untuk jadi full-time traveler, for many good reasons.

Really? (IMG: Shutterstock)
Really? (IMG: Shutterstock)

Berikut beberapa alasan yang membuat mereka tak memilih berhenti dari pekerjaan untuk hidup nomaden:

1. It’s not all about the money, but it does matter

It’s obvious. It’s a common sense. Kita semua butuh uang. Bahkan uang-lah yang memungkinkan kita menjejakkan kaki di pegunungan berkabut di China, menyusuri jalanan yang dipenuhi bangunan klasik Eropa, atau menikmati indahnya alam di pedalaman Nusa Tenggara Timur.

Traveling tanpa uang? (IMG: Shutterstock)
Traveling tanpa uang? (IMG: Shutterstock)

Kenyataannya, jika kamu begitu menyukai traveling, kamu tak harus terus-terusan melakukannya dan berhenti mendapatkan penghasilan tetap dari pekerjaan yang mapan. Uang nggak begitu saja jatuh dari langit. Pekerjaan freelance memang bisa jadi opsi, tapi sama sekali nggak bisa diandalkan.

Jadi, seperti yang ditulis oleh sepasang travel-blogger Elaine dan Dave, kamu harus punya pekerjaan tetap (dan memiliki penghasilan bulanan yang bisa diandalkan) jika ingin terus bepergian dan melihat dunia.

2. We only live once; jadi milikilah rumah untuk kembali

Mungkin ribuan kali kita mendengar sesuatu seperti, kita hanya hidup sekali; kalo nggak traveling sekarang, kapan lagi?

Well, that’s because we won’t live forever, we shouldn’t use all of our time hitting the road! Kita punya keluarga yang sangat berharga melebihi apapun. Sudah seharusnya kita menghabiskan banyak waktu untuk mereka. Terlebih jika orangtua kita telah menua, bukankah seharusnya kita ada di sisi mereka?

Yakin mau ninggalin rumah... selamanya? (IMG: A Beautiful Mess)
Yakin mau ninggalin rumah… selamanya? (IMG: A Beautiful Mess)

Memang, para generasi milenial di rentang usia 20-an biasanya sedang berada di fase “all about me.” Tapi cepat atau lambat, kamu akan menyadari bahwa dunia tak berputar di sekelilingmu.

Pergilah ke seluruh penjuru dunia, tapi ingatlah untuk pulang, karena kamu punya rumah dan orang-orang tercinta yang menunggumu kembali.

(IMG: adventureseeker)
(IMG: adventureseeker)

3. Ada banyak waktu untuk melihat hal-hal menarik di dunia

“Kalau tidak resign, saya nggak punya waktu untuk keliling dunia.” Wah, kamu salah kalau berpikir begitu. Coba Googling deh, ada banyak cara agar tetap bisa mendapat gaji rutin tiap bulan, walaupun kamu sering traveling berminggu-minggu. Malah blogger Elaine dan Dave tetap bekerja kantoran secara full time, dan tetap bisa menjelajahi 18 negara dalam setahun, dalam perjalanan selama 2 bulan (jika ditotal).

Kamu punya banyak waktu. Ada 104 weekend dalam setahun. Ada libur nasional. Ada cuti tahunan. Jadi walaupun kamu kerja full-time, kamu selalu punya waktu untuk traveling.

(IMG: adventureseeker)
(IMG: adventureseeker)

4. Menghabiskan masa muda (hanya) untuk traveling berpotensi membuat kamu kesepian di masa mendatang

Sebaiknya kamu mulai melupakan resolusi ‘menghabiskan usia 20-an untuk traveling keliling dunia’ deh.

Ada teori yang mengatakan bahwa masa muda (dewasa muda) adalah waktu di mana seseorang mulai mengembangkan hubungan jangka panjang yang erat, dan waktunya belajar mendekatkan diri secara emosional dengan pasangan, keluarga dan teman.

Para full-time travelers pastinya bertemu dengan orang-orang yang sangat menarik dan hebat di sepanjang perjalanan. Namun dengan gaya hidup nomadik, akan susah mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan mereka.

(IMG: Imgflip; modified)
(IMG: Imgflip; modified)

5. Bekerja freelance sambil keliling dunia tak semudah yang kamu kira

Saat ini, dengan menjamurnya startup di Indonesia dan dunia, kamu bisa lebih mudah mendapatkan pekerjaan freelance, entah sebagai penulis, desainer atau programmer. Namun bekerja secara remote (apalagi di tempat terpencil dan di negeri orang) nggak semudah yang kamu bayangkan. Kehidupan seperti itu nggak semanis yang kamu pikirkan.

Terlihat seperti surga? (IMG: dangerous-business)
Terlihat seperti surga? (IMG: dangerous-business)

Pengalaman seorang travel blogger yang kini menjadi mantan full-time traveler mungkin bisa menggambarkannya:

Pada musim panas tahun 2013, beberapa bulan setelah menjalani kehidupan impian berkelana kelling dunia, saya mendekam sendirian di bar sebuah hostel di Florence jam 1 siang, pada hari Jumat, merasa ingin menjambak rambut saya sampai lepas. Saya telah berusaha mati-matian mencoba terkoneksi dengan internet milik hostel, yang sinyalnya benar-benar payah. Internetnya hanya bisa digunakan pada sore hari (ketika tak ada orang lain yang mencoba menggunakannya). Dan tentu saja, menyelesaikan pekerjaan berarti melewatkan banyak hal menarik seperti art museum dan tur yang menarik.

Suatu malam, saya berusaha keras untuk tidur, namun gagal karena memikirkan deadline pekerjaan yang harus dipenuhi sementara tidak bisa menemukan sinyal WiFi yang bisa diandalkan. Saat itu, saya hampir saya menghancurkan liburan seminggu di Florence.

Lalu, saat menumpang bus beberapa minggu kemudian di Polandia, saya merasa ingin menangis karena uang di tabungan bank saya hanya tinggal 100 dolar, sementara saya menunggu mereka membayar saya untuk pekerjaan freelance sebanyak 2.000 dolar. Tentu saja, semua bayaran untuk pekerjaan freelance selalu telat.

Saat ini, dia tetap menghabiskan banyak waktu untuk traveling dan memiliki pekerjaan tetap secara part-time di sebuah startup.

(IMG: Memegen)
(IMG: Memegen)

6. Full-time traveling bukanlah sesuatu yang bakal menyelesaikan semua masalahmu

Jika kamu tidak bahagia di kehidupan sehari-hari, maka kemungkinan kamu juga tak akan bahagia dengan kehidupan sebagai full-time traveler. Bepergian tidak menyelesaikan masalah secara instan. Jika hubungan cintamu buruk, maka hubungan tersebut akan tetap buruk walaupun kalian terpisah 20.000 kilometer jauhnya. Jika kamu sulit punya pacar, maka jangan menaruh harapan pada traveling untuk menemukan seseorang.

Jangan mau terjebak dalam, sebut saja, Eat Pray Love Syndrome?

(IMG: Screenshot)
(IMG: Screenshot)

7. Traveling adalah sesuatu yang spesial

Sesekali tersesat di kanal-kanal Venezia, mencoba gaya hidup suku pedalaman di Flores, merasakan dinginnya salju sambil berendam di onsen, atau bersusah-payah menaklukkan puncak Kilimanjaro akan menyenangkan jika dilakukan… tidak setiap hari.

Faktanya, jika kamu melakukan sesuatu setiap hari, maka hal tersebut akan menjadi rutinitas. Sebaiknya kamu tetap menjaga traveling sebagai sesuatu yang spesial, sesuatu yang ditunggu untuk membantumu melepaskan diri sejenak dari keseharian yang membosankan. Traveling seharusnya menjadi sesuatu yang bisa membuatmu berenergi, bukannya malah menyedot habis energimu.

(IMG: thewholeworldisaplayground)
(IMG: thewholeworldisaplayground)

Bukankah menyenangkan ketika kamu merasa seperti ada ratusan kupu-kupu beterbangan di dalam perut, ketika menunggu waktu perjalanan berikutnya tiba?

(IMG: wildjunket)
(IMG: wildjunket)

Jangan biarkan dirimu kehilangan kegembiraan ketika traveling. Teruslah mencintai perjalanan, penasaran dengan apa yang menunggu di balik setiap tikungan, bersemangat mecoba hal-hal baru. Cara terbaik untuk mencapainya adalah dengan menjadi part-time traveler!

Punya saran lain untuk ditambahkan? Share di kolom komentar ya!***

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *